Penyelidikan Kanonik

March 30, 2007

Sebagai prasyarat pernikahan di gereja Katolik, setiap pasangan yang akan melakukan pernikahan harus melalui penyelidikan Kanonik. Penyelidikan ini dilakukan oleh seorang Pastor, dimana pada prosesnya sebenernya tidak lebih dari tanya jawab seputar kesiapan pernikahan, dan mencari tahu ada tidaknya hal yang menghalangi pernikahan.

Aku dah dona berangkat ke gereja jam 10.00, disana kami menyerahkan dokumen-dokumen. Tidak lama kemudian kami bertemu dengan Pastor Suherman, kami berbincang-bincang seputar penikahan. Menetapkan waktu kami menerima Sakramen Perkawinan. Akhirnya ditetapkan tanggal bersejarang itu 8 JULY 2007 10.30, pas.. gak perlu ubah persiapan yang lain karena sejak semula kita bikin perjanjian dengan vendor pada tanggal itu.

Setelah itu, Kami mulai diwawancarai satu persatu, yang pertama adalah Dona. Aku gak tau apa yang dibicarakan didalam, tapi didepan aku dah cukup bosan kira kira 30 menit kemudian giliran aku. Didalam aku ditanyain Berapa lama dah kenal, ada hubungan keluarga atau tidak, kenapa menikah, dan pertanyaan pertanyaan lain. Yang paling lucu adalah pertanyaan “Apakah selama mengenal pasangan kamu, pasangan kamu pernah berperilaku aneh? Gangguan kejiwaan misalnya?”. Hehehehe…

Setelah itu sih udah, aku kira tadinya mau berlama-lama ternyata cuma 1 jam hehehe syukur dech.. dah sempet dag dig dug. kalo gak lolos kan gak jadi nikah :D
Sampai saat ini semuanya masih berjalan sesuai rencana, yang masih belom sesuai adalah budget :D
Semoga pada akhirnya semua bejalan sesuai dengan rencana. AMIN

 

5 comments

1 Your Avatar   kocu { 03.31.07 at 10:38 pm }

wah wah… asyik ya ada acara begitunya…

memang hal terbaik dari pernikahan ialah saat kita mendapatkan dukungan dan perhatian dari banyak orang (gw ngomong kaya udah pernah aja ya… :-p hehehe)

ngomong2… jawaban lo dari pertanyaan yg paling lucu itu apa ta? :lol: hohoho….

kalo jawaban dona sih gw udah kebayang :D ( becanda ya :D )

2 Your Avatar   Monkperm { 12.06.07 at 9:13 am }

Ta… boleh nanya dikit ga? Apa di agama kita ini. pernikahan yang didasari keterpaksaan (dijodohkan misalnya) bisa menghalangi pemberian sakramen pernikahan di gereja yang kita tau kita menikah hanya 1x dalam seumur hidup kita.
Mungkin bisa jadi salah satu calon mempelai (yg terpaksa) akan berbohong didepan romo dalam penyelidikan kanonik ini gara-gara menuruti yang menjodohkannya (keluarga misalnya) demi mendapat restu.
Apa sebenarnya pernikahan yang begini ini mendapat berkat dari Tuhan? Kan kasihan juga kalau menikah tanpa didasari kasih sayang yang bener2 ada diantara kedua manusia.
Comment ya? ke email jg deh….
Salam,
Monkperm

3 Your Avatar   oktaendy { 12.06.07 at 9:40 pm }

Salam kenal, monk..

Setahu saya pernikahan yang didasari keterpaksaan, jika diketahui pada saat penyelidikan kanonik akan membatalkan terjadinya perkawinan itu. Karena salah satu butir pertanyaan adalah tentang keterpaksaan. Nantinya ditanya apakah saudara menikah tanpa paksaan dari pihak manapun dan sebagainya.

Kemudian untuk pertanyaan ke 2 apakah mendapat berkat dari tuhan?
Saya sendiri tidak tahu apakah tuhan merestui (baca meberkati) atau tidak. saya juga tidak tahu apakah pernikahan tersebut bisa dibatalkan atau tidak. ada beberapa kondisi yang bisa membatalkan sebuah perkawinan, tetapi prosesnya bisa sangat panjang, dah salah satu penyebabnya (kalau saya tidak salah ingat) adalah ada nya cacat pada penyelidikan kanonik. Konon, pembatalan sebuat pernikahan bisa sampai ke Vatikan.

Setuju, kalau memang terpakasa lebih baik jangan menikah. :)

4 Your Avatar   Kris { 03.25.08 at 7:01 pm }

Saya dengar sebuah pernikahan katolik bisa dibatalkan karena suatu sebab. Apa saja penyebabnya selain kematian salah satu dari pasangan itu? Apakah KDRT? Dimana sih saya bisa menayakan masalah seperti ini?

GBU

5 Your Avatar   oktaendy { 03.27.08 at 9:34 pm }

dalam penyelidikan kanonik di jelaskan hal-hal yang bisa membatalkan pernikahan, tapi sebenarnya hampir tidak mungkin. kalaupun mungkin prosesnya susah. Ada satu syarat seingatku yang harus dipenuhi, pasangan tersebut harus belum melakukan hubungan suami istri. kalau KDRT? sepertinya tidak termasuk. Kalau ingin lebih jelas bisa ditanyakan pada saat mengikuti kursus pernikahan atau pada Pastur. Semoga membantu..

Leave a Comment