Posts from — June 2007
“Pertunjukan” Kekuasaan
Malam ini aku melihat sebuah pertunjukan kekuasaan, bisa dibilang tindakan arogan dari seseorang (entah siapa orangnya). Seperti biasa pulang kerja aku jemput Dona ke sunter, sesampainya di perempatan coca-cola (Cempaka Putih) tiba-tiba saja hanya kendaraan dari arah Cempaka Putih ke Pulo Gadung yang boleh jalan, semua kendaraan lain di ketiga arah lainnya di-stop, Yup DISTOP!
Kejadian yang mengesalkan, suara klakson kendaraan gak berhenti berbunyi, dan si “Wereng Coklat” itu dengan lagak sok kuasanya cuek bebek…
. Kejadian itu berlangsung lebih dari 15 menit, entah tokoh atau pejabat mana yang lewat tapi yang lewat kemudian hanya 1 (SATU) buah mobil dengan lampu biru putih diatasnya, sekali lagi hanya SATU MOBIL, dan pasti bukan pejabat pemerintahan yang biasanya dikawal oleh banyak mobil.
Mengesalkan bukan? Coba bayangkan seandarinya diantara ratusan kendaraan lainnya ada orang yang hendak ke rumah sakit, ke UGD, ada yang mau melahirkan, ada yang mau cepet-cepet pulang karena dah gak tahan pengen ke WC (hahaha…). Benar benar pertunjukan kekuasaan yang merugikan.
Dan hal terakhir yang paling menyebalkan adalah setelah mobil itu lewat “wereng coklat” itu buru-buru menepi dan dengan acuh tak acuh membairkan ratusan kendaraan menyerbu ketengah perempatan.. macet!!
Hiks.. bobrok bener…….
Bakar Ikan, Pelepas Lelah
Kelelahan akhirnya hinggap juga, setelah beraktifitas dikantor, ditambah ngurusin wedding, dari cetak label undangan, design website, cetak buku panduan misa gereja, ambil souvenir dll.. Apalagi dona yang 3 hari training outbound di Jawa Barat, dia cerita dari manjat pohon, meniti di tali, bikin rakit dan mengarungi danau sampe acara tidur di hutan dengan menggunakan Sleeping Bag, puihhh…
Sepertinya kami butuh bersantai, maka pergilah kami ke carefour untuk membeli panggangan, arang, dan perlengkapan lagi untuk membakar ikan.. Yuhhuuiii… bakar bakar ikan.. makan-makan…
Rasanya nyaman melepas lelah sambil bakar-bakar ikan, sembari bakar, mulut ngunyah ikan bakar hangat plus kecap pedas dan tomat.. segarrr….
Sejenak ngelupain segala aktivitas memang perlu, rileks, santai melepas kepenatan.. ngelupain bahwa masih ada web site wedding yang belum juga selesai, list undangan yang blom dicetak, buku misa yang belum jadi, hahahaha…
Tengah malam ketika bakar-bakaran ikan selesai, kami harus melakukan acara yang paling dibenci yaitu beres-beres.. cuci piring, gelas, panggangan, kyaaaa….
“Saat pesta usai selalu ada aktifitas lain yang tidak kalah meriah : cuci piring!”
Accomplished: Undangan
Undangan untuk wedding kami akhirnya selesai juga, siang tadi aku dan dona ke pluit untuk mengambilnya. Perjalanan seperti biasa, macet dan panas yang menyengat maklum kami naik motor hehehe.. kami sampai disana sekitar pukul 11 siang. Dan setelah menyelesaikan pelunasan pembayaran kami pulang dengan membawa sekardus undangan dan se-plastik besar souvenir.
Ternyata kesulitan juga membawa barang tersebut diatas motor hahahaha… Tapi bisa juga sih dibawa-nya, aduhh.. moga cepet dapet rejeki buat beli mobil
(doain yeee….). Kesulitan tersebut menjadi lebih “parah” saat aku menyadari aku pergi ke pluit tanpa membawa STNK dan SIM kyaaaaa… celaka!! Hari ini adalah hari sabtu dan biasanya banyak operasi di sekitar Puri, waduh.. bisa panjang urusannya. Terpaksa kami jalan lebih pelan dengan mata yang super awas melihat kanan kiri, takut ada operasi.
Setelah melalui perjalanan yang mendebarkan akhirnya sampai juga kami dirumah, saat belokan terakhir dilalui, rasanya begitu lega.. Bersyukur gak ketemu si “wereng coklat”, kalo ketemu entah berapa puluh ribu yang harus keluar, yang aku takutkan motor satu-satunya harus ditahan gara-gara gak ada STNK. Wah… bisa sial banget kalo gitu hahahaha…pheewww…. untung lah.
Note : Wereng adalah hama pada padi, waktu aku SMA aku dan teman-teman menjuluki polisi sebagai Wereng Coklat, hama yang berwarna coklat (seragam mereka kan coklat hahaha..)
Secarik Kertas
Aku secarik kertas ditepi jalan
Lusuh.., terbalut debu berjelaga
Tersingkir tak ada harapan
Terinjak injak tak berharga
Mentari menyiksa paksa
Panas, memerah marah
Menindas tuntas tak bersisa
Hancur, meremah remah
Seringai malam menggigit hasrat
Mengendap menyerap asa
Kalut terhimpit langit
Meratap mengutuk rasa
Aku secarik kertas ditepi jalan
Lusuh.., terbalut debu berjelaga…
Ten of the Biggest Mistakes Developers Make With Databases
Ten of the Biggest Mistakes Developers Make With Databases
By Mike Gunderloy
March 6, 2006
Although fashions come and go in software development, some things stay remarkably constant. One of these is the use of databases. You may be wonderfully up-to-date with an AJAX Web interface or the latest whizbang Windows user interface, but under the covers, you’re probably still pumping data in and out of a database, just as we all did a decade or more ago. That makes it all the more surprising that developers are still making the same database mistakes that date back to those good old days of Windows 95 and before. Perhaps it’s just that most of us learn to use databases on the side, rather than really studying them. In any case, here are my nominations for the biggest mistakes that I see over and over again.
Choosing the Wrong Database
Not all databases are created equal — which means before you do anything with a database, you have to pick the appropriate database. Time and again I’ve seen Access databases groaning to bear the load of huge data sets that would have been child’s play for SQL Server, or harried users trying to pay for and set up SQL Server to hold a few hundred rows of data. Broadly speaking, there are three tiers of databases in the market these days: desktop and embedded databases suitable for smaller tasks, “Express” versions of the major players that are good up to a few gigabytes of data, and the truly enterprise databases like SQL Server, Oracle, and DB2 that can handle just about anything you can throw at them. Before you do anything else, you need to make some realistic estimates about the amount of data that you’ll be storing and pick the appropriate product to do the storage.
Choosing Too Many Databases
APIs such as ODBC, JDBC, and OLE DB have promoted the notion of database independence - the idea that you can write your application code in such a manner that you can plug any database at all in for data storage. Well, yes, but there are compromises. I’ve seen a lot of teams go down the rat hole of database independence, writing layers to translate all of their SQL statements to some lowest common denominator dialect that every conceivable database will support, and at the same time giving up on advanced features available in any particular database. The notion seems to be that some client in the future might want to switch to Oracle or DB2 or FoxPro or whatever, so it’s best to be prepared now. On the contrary: when you’re starting out with a new product, pick your storage engine and write to it. If your product is good, people will install the database you specify, and you won’t be wasting untold man-hours supporting “just in case” scenarios that you’ll probably never need.




