Bakar Sampah Kebiasaan atau ?

Membakar sampah sepertinya menjadi hal yang umum bahkan menjadi semacam budaya di beberapa tempat, bisanya aktifitas dilakukan di sore hari, gambaran yang ada persis seperti film-film horor jaman dahulu dimana situasi sore hari mejelang malam (ketika hantu akan muncul), dan ditanah lapang terdapat asap megepul dari sampah yang dibakar.
Kebiasaan itu ternyata tidak hanya dilakukan di pedesaan, tetapi juga dikota metropolitan macam Jakarta. Jika aktiftas itu dilakukan di pedesaan, mungkin kita akan berfikir bahwa kebiasaan itu terjadi karena kurangnya fasilitas pengangkutan sampah, tetapi di Jakarta? Apakah masih masuk akal?
Mungkin jawaban yang masih masuk akal dari pertanyaan tadi adalah “membakar sampah adalah kebiasan yang biasa dilakukan waktu di desa, jadi setelah ke kota gak melakukan itu rasanya gak enak”. Mungkin banyak diantara kita yang tidak kuat mencium bau asap, apalagi asap dari plastik yang baunya begitu menusuk dah pekat, atau asap dari jerami dan sejenis nya yang membuat baju menjadi bau dan mata menjadi pedih. Entah kenapa orang-orang yang membakar tersebut mempunyai kekebalan alami terhadap bau-bauan tersebut, buktinya mereka cuek-cuek aja, padahal mungkin tetangga atau penguna jalan disekitarnya sudah ampun-ampunan saking gak tahannya.
Masuk akal kan kalau Indonesia disebut-sebut sebagai peng-Import peng-Export asap terbesar di Asia (mungkin juga di dunia), tanya saja pada negara tetangga kita Malay dan Singapore bagaimana rasanya tersiksa oleh asap tetangga akibat kebakaran hutan. Mungkin efek dari pembakaran sampah tidak sedasyat kebakaran hutan, tetapi alangkah baiknya jika budaya membakar sampah sudah saat nya dihentikan.
Mari belajar untuk mencintai paru-paru mu, paru-paru ku dan paru-paru anak cucu kita. ![]()





4 comments
asap, as soon as possible. Gubrak!
hehe
ngomong2 maksud okta peng-Ekspor terbesar kali, soalnya sumber asapnya kan dari kita
Jadi sebenernya solusi terbaik untuk sampah yg menumpuk diapakan ya? apa di kubur aja?
iya peng-export! salah tuh hahahahaha..
aku setuju dengan cara membuang sampah yang memisahkan sampah organik dan non organik. dengan demikian solusi “melenyapkan” sampah baik dengan cara mengubur (sampah organik) atau diambil para pemulung (non organik) akan menjadi lebih mudah
Yang terjadi sekarang ini orang suka banget bakar sampah, padahal sudah ada petugas pengangkut sampah yang setiap hari lewat didepan-nya, itu yang bikin “greget”.
kalau kata aagym bukan membuang, tapi menyimpan sampah pada tempatnya. he…….. kalau boleh menjawab pertanyaan kocu, selain dipilah, sampah itu bisa dilakukan 4 R (Recycle, Reduce, Replace dan Reuse).
setuju setuju…
Ayoo.. Go Greeen!!
Leave a Comment