Menembus Banjir

February 2, 2008

Jumat sore, aku pulang dari kantor sekitar jam 5.45 dengan harapan semakin cepat pulang semakin cepat sampai rumah, setidaknya bisa sampai rumah sebelum tengah malam. Berdasarkan pengalaman banjir 1 tahun sebelumnya (baca : Banjir Jakarta 2007 - Perjalanan Pulang ) waktu yang ditempuh untuk sampai ke rumah bisa sampai 3 jam lebih, hari itu dengan nekad aku pulang juga. Karena Dona sakit, hari itu aku tidak menjemput dia ke Sunter, jadi keluar dari kantor aku langsung pulang ke rumah, itu juga alasan aku harus pulang.
Perjalanan dimulai dengan kondisi yang padat merayap padat meratap, nyaris tak bergerak, sedikit demi sedikit kondisi mulai berubah menjadi padat berharap. Motor bisa bergerak dengan sedikit leluasa, tetapi setiap kali mendekati perempatan kondisi jalan kembali ke padat meratap. Doww!! beberapa ruas jalan bisa dari padat berharap bisa berubah menjadi ramai lancar ramai langgar, kondisi yang lumayan lancar membuat orang menjadi maen serobot tak tentu arah, bak tikus dilepas dari kadangnya :D .

Aku sampai daerah Mall Puri Indah (Jakarta Barat) sekitar jam 8 malam, artinya sudah 2 jam dijalanan (waktu normal yang biasa ditempuh sekitar 1 jam dari kantor ke rumah), dan disana macet total!. 30 menit motor sama sekali tidak bergerak, kondisi tersebut cukup melelahkan, ditambah kaki yang terus terendam air yang lumayan tinggi. 8.30 lewat akhirnya motor bisa bergerak, dengan teramat sangat merayap meratap, perjalanan dari Mall Puri Indah ke rumah ditempuh selama 1 jam dengan motor (bisanya tidak lebih dari 30 menit), tidak bisa dibayangkan waktu yang ditempuh mobil yang nyaris tidak bergerak.

Setelah keluar dari jalan utama, jalanan menuju perumahan benar-benar lancar, saat itu aku benar-benar lega, rasanya capai, dan dingin tiba-tiba hilang. Dijalan aku berhenti dan membeli 2 bungkus bakso, untuk makan malam aku dan dona (saat itu sekitar 9.30 malam), aku mengendarai motor dengan santai aku kira “masalah” sudah lewat 100 m dari penjual bakso, “kubangan” banjir menghadang, ya..ampun.. ternyata belum selesai juga perjalanan menembus banjir :D . Dengan nekad, aku lajukan motorku menembus banjir, cuma berharap 1 hal, mesin jangan sampai mati!, kalau mati habis sudah hehehehehe…

Setelah lolos dari “jebakan” yang satu itu, aku harus menembus beberapa “jebakan” lagi untuk sampai ke depan rumah. Legaaa rasanya ketika Dona membukakan pintu, aku sudah sampai… Saat itu jam tangan ku menunjukan 9.50.

 

6 comments

1 Your Avatar   tania { 02.03.08 at 4:27 pm }

ya Tuhan, harusnya pemerintah ini tuh bisa belajar menata kota dengan lebih baik kan gara2 banjir2 mulu ini

2 Your Avatar   oktaendy { 02.03.08 at 9:03 pm }

:D
kalo gak ada noda ya gak belajar.
tapi koq nodanya dah dimana-mana, tapi gak belajar juga.
:((

3 Your Avatar   donamelia { 02.05.08 at 2:27 pm }

ceritain juga donk betapa istrimu yang baik hati ini menanti dengan penuh kekhawatiran kedatanganmu ke rumah. :)
Dan sejujurnya khawatir juga kalo air itu mulai melewati batas pagar….

4 Your Avatar   oktaendy { 02.06.08 at 9:21 am }

:D iya iya.. yang ini gak di Xspose biar yang lain gak iri :-P
makasih buat dag dig dug nya tungguin aku pulang. aku juga dag dig dug takut gak bisa pulang hahahahaha

5 Your Avatar   edy { 02.06.08 at 11:00 am }

yg penting motor ga kemasukan air
selama masih memungkinkan, terabas aja :D

6 Your Avatar   oktaendy { 02.06.08 at 11:22 am }

Iya sih, tapi ngeri juga. sudah banyak yang dorong motor hahahaha..
untung sampai rumah dengan selamat :D

Leave a Comment