Prinsip Kemanusiaan

March 27, 2008

Berapa waktu yang lalu saat kami berdua menikmati ketan susu di sebuah warung dipinggir jalan, muncul seorang ibu dengan menggendong anaknya. Ibu itu menyodorkan tangannya, meminta belas kasian pengunjung yang sedang makan. Tiba giliranku, si ibu menggumamkan kata yang tidak begitu jelas, sesuai dengan prinsipku aku menolak.

Aku bukannya tidak peka, dan tidak berbelas kasian, tapi aku mencoba memberi batasan, menurut versiku tentunya, untuk menentukan mana yang pantas dan tidak pantas untuk diberi. Batasannya simple, yaitu

  1. Tidak memberi pada pria, ataupun wanita sehat jasmani rohani.
    Aku rasa mereka bisa bekerja dengan layak, tanpa harus meminta-minta. Dengan memberi artinya mengesahkan hal itu sebagai salah satu pekerjaan.
  2. Tidak memberi pada anak-anak.
    Dari kecil seorang anak seharusnya diajarkan untuk mandiri, bekerja keras. Pengecualian yang kadang terjadi adalah dengan memberi makanan, pada waktu tertentu, yaitu saat ulang tahun (dan ada rejeki) kami berkeliling untuk bagi-bagi kue kecil.

Kembali ke cerita tadi, sesat setelah aku menolak si ibu, aku teringat kasus kelaparan, dan gerakan Tahun Anti Kelaparan dan Gizi Buruk Pertanyaan yang timbul adalah Apakah tindakan yang aku ambil bisa dibenarkan?

Jika aku tidak memberi dan orang lain mengikuti untuk tidak memberi, maka kemungkinan besar orang itu tidak berpenghasilan dan akan kelaparan kemudian mungkin menyebabkan kematian. Aku berfikir apakah mungkin banyak kasus kelaparan dan kematian karena kelaparan disebabkan banyaknya orang mempunyai prinsip seperti aku. Jadi apakah kita bisa melegalkan pekerjaan peminta-minta?, melegalkan pekerjaan yang lebih banyak sisi negatif untuk masyarakat dan juga pribadi manusianya itu sendiri, dengan alasan mungkin berakibat kelaparan?

Lalu sebaiknya bagaimana? Apakah harus bersikeras “mendidik” mereka walaupun dengan resiko ataukah aku harus merevisi prinsip-prinsip diatas?

 

19 comments

1 Your Avatar   GusKoko { 03.27.08 at 11:27 pm }

Kadang2 memang susah untuk membedakan mana yang benar2 “membutuhkan”.

Blog nya bagus sekali, tapi saya tidak menemukan Shout Box atau Guestbook.
Terima kasih buat perhatiannya disaat saya sakit.

2 Your Avatar   dian { 03.28.08 at 8:12 am }

dilema ya.

ketika ibu yg di sulawesi itu meninggal, yg disalahkan tetangganya yg tidak peka. juga ibu tsb yg katanya tertutup orgnya. pdhl kalo ibu itu minta, belom tentu dikasi.

kalo di jkt jelas gak bisa dibedakan, yg mana yg benar2x membutuhkan, mana yg malas.

mbuh.

3 Your Avatar   ridu { 03.29.08 at 12:19 pm }

yang penting dalam keadaan yang sekiranya urgent banget untuk kita memberikan sumbangan kepadanya, dan juga tergantung keikhlasan kita juga

4 Your Avatar   ario dipoyono { 03.29.08 at 4:07 pm }

wah benertuh.. lebih baik memberi kail dari pada memberi ikan, kata pepatah kuno

5 Your Avatar   tony { 03.29.08 at 6:20 pm }

Hm.. sulit untuk menjawabnya!

ada benernya juga tidak memberi, ada yang pernah bilang, kalo memang ada niat memberi, berikan saja ke panti, biar anak-anak itu tidak turun di perempatan jalan, tapi kembali kerumah panti dan mendapat bekal yang lebih baik.

6 Your Avatar   Hanna { 03.29.08 at 6:26 pm }

memang susah juga sih, Okta. tapi, marilah kita menyentuh mereka dengan cinta kasih. memberikan mereka semangat hidup dan semangat juang. mereka membutuhkan dorongan mental. terus memberi juga bukan jalan yang baik. sebab kita akan memanjakan mereka dan menjadikan mereka pemalas. kelaparan dan kemiskinan dua kasus yang berbeda. runyam juga sih. ada baiknya ketika kita memberi kita berbisik kepada mereka, “Jangan terus meminta. bersamangatlah dan mencari kerja. hidup butuh perjuangan”

7 Your Avatar   antown { 03.30.08 at 12:11 am }

tapi yang secara lahiriah kurang lengkap kadang juga berpura2 aja kok. mereka terjebak dalam skenario kehidupan. oalah… ada2 aj.

salam

8 Your Avatar   yulia { 03.30.08 at 6:13 pm }

Mendingan lu ikutin kata hati lu Ta, aman :)

Take care n GBU!!

9 Your Avatar   oktaendy { 03.30.08 at 7:34 pm }

@GusKoko

Senang rasanya membaca komentar abang.. artinya sudah sehat walafiat.. :)
Shout Box-nya menyusul bang.. :D

@dian
:D
konon katanya pengemis di Jakarta saat pulang kampung bisa membeli kambing dan kerbau..

@ridu
Setuju, yang penting ikhlasnya, kalo gak ikhlas percuma saja :)

@ario
Tul.. Setuju..

@tony
Sempat terpikir hal itu, cuma kalau yang lain masih tetap memberi anak2 jalanan. mereka jadi ogah kalau harus tinggal di panti. Sudah terlanjut “enak”

@Hanna
hihihi.. setuju.. setuju..
pernah bisikin juga gak? reaksi mereka gimana?
gak marah? :)

@antown
Hal tersebut juga pernah diulas di salah satu stasium televisi..
Jakarta memang aneh.. :(

@yulia
kalo gitu aku tetap menjalankan prinsipku, dengan sedikit diperlunak, dan melihat keadaan yang ada.

10 Your Avatar   donamelia { 03.31.08 at 11:01 am }

pertimbangan aku sih, kalau orang tersebut sehat jasmani dan rohani dan dengan sengaja melakukan kegiatan meminta-minta, yang artinya bisa jadi sudah terorganisir dengan baik. Maka sebaiknya tidak diberi. Tetapi jika kita melihat orang yang membutuhkan dan tidak melakukan kegiatan meminta-minta, maka artinya kita bisa dengan sukarela membantu. Atau cara lain, lewat kegiatan menyumbang yang sudah terorganisir, misal lewat gereja, organisasi televisi, dan sejenisnya.
Pasti ga asing lagi donk dengan kabar berita bahwa anak-anak jalanan itu diorganisasi dengan baik dan cukup profesional. termasuk dari perekrutan hingga operasional.

11 Your Avatar   Toga { 03.31.08 at 4:00 pm }

jalan “tengahnya” kali, ga usah pake prinsip simpul mati gitu. kan ada sixth sense, insting, nurani ato apalah…

kalo itu “bunyi” ya kasi aja.

12 Your Avatar   isnuansa { 03.31.08 at 7:40 pm }

menurut saya, prinsip “berkeliling untuk berbagi” sudah tepat dilakukan. kita bukan sinterklas, dan jangan pernah berpikir bahwa kita mampu dan satu-satunya yang mempunyai kewajiban untuk menyelesaikan semua masalah, termasuk kelaparan. membantu sesama adalah wajib dilakukan, dan sesuaikan dengan kemampuan kita. lebih peka terhadap sekeliling, dan bantu yang perlu dibantu.

soal peminta-minta, kita tidak tahu pasti apa yang terjadi sebenarnya. bisa jadi mereka memang benar2membutuhkan, tetapi bisa juga dibuat-buat dan sebenarnya masih mampu mencari pekerjaan lain.

tetapi ada satu prinsip teman, mungkin bisa dijadikan masukan juga [meski saya juga tidak sependapat dengan teman tersebut], bahwa untuk membantu sesama prinsip ikhlas yang paling utama. jika mau membantu, membantu saja. ikhlaskan. jangan pernah memikirkan apakah kita ditipu, atau mereka meminta-minta padahal sebenarnya mampu.

13 Your Avatar   meiy { 04.01.08 at 4:22 pm }

Ibuku pernah menasehati, kalau mau memberi beri sajalah dg ikhlas, nggak usah memikirkan apakah mereka menipu dg pura2 invalid atau pemalas, kita tak pernah tahu yg sebenarnya.

paling baik memang memberi ‘pancing’ (seperti petuah lama), jangan ikan :)

14 Your Avatar   oktaendy { 04.01.08 at 9:09 pm }

@donamelia
melihat mana yang pura-pura itu yang susah :D yang ketauan kalau pas gak dikasih, pertama dia datang dengan tampang memelas, sesaat kemudian “bersemangat” nyumpah-numpah, sembari pergi. Heran! :)

@Toga
Nasehat nya bagus sekali..Benar juga, memang tidak selalu aku berprinsip “mati”, kadang juga bergantung pada “buyi-bunyian” tadi :) .

@isnuansa
*mangut-mangut*
memang sih syarat utama untuk memberi adalah ikhlas, kalo memang dirasa harus memberi, beri saja, kemudian lupakan. sesuai dengan nasihat bang Toga, kalo “bunyi” ya beri.

@meiy
*mangut-mangut lagi*
memang seharusnya memberi pancing, sayangnya kita selalu memberi ikan, karena gak mau repot :(

15 Your Avatar   abimono { 04.02.08 at 4:11 pm }

hanya memberi pada orang buntung dan sejenis

titik

16 Your Avatar   OktaEndy { 04.04.08 at 8:27 pm }

lebih berprinsip dari aku
:D

17 Your Avatar   kocu { 04.06.08 at 2:38 am }

Memang berat, gw sendiri pernah bahas ampe 2 post tentang masalah ini dan rasanya masih kurang puas.

Gw sangat setuju kalau ‘peminta’ bukanlah pekerjaan, dan tidak boleh di legalkan sebagai pekerjaan. Bayangkan kalau ada anak kecil yang sudah pintar memerankan wajah iba untuk mendapatkan belas kasihan, saat umurnya terus bertambah dan wajah iba tidak lagi berfungsi, trik apa lagi yang mungkin akan dia pakai?

Tuh, rasanya udah pengen bikin post baru lagi di sini (^_^) hohoho.

Intinya gw percaya semua orang harus bertanggung jawab mulai dari diri masing-masing.

18 Your Avatar   franya { 04.18.08 at 10:35 pm }

namanya juga males kerja yang berat.. maunya yang gampang uang juga gampang.. yach susah deh… itulah INDONESIA….

19 Your Avatar   oktaendy { 04.23.08 at 5:13 pm }

@Kocu
susah yach.. kondisi yang membuat susah, menolong salah tidak menolong salah :(

@franya
hehehehe…
duh duh… gimana yach abisnya disini kata koes plus kayu dan batu jadi tanaman, jadi yaaa.. orang menjadi malas.. :D

Leave a Comment