Category — Liputan Khusus
Banjir Jakarta 2007 : Satu Kampung Pesta Lele
Sabtu, 3 Februari 2007
Setelah semaleman ber-gelap gelap ria akhirnya pagi itu bisa juga lihat sinar :D, diluaran ada kegiatan unik orang bawa ember. Ember nya bukan untuk tempat buang air tapi untuk tempat menaruh hasil buruan “lele”. Yup orang-orang berlomba2 memancing lele.. entah dari mana mereka tahu kalau diantara air banjir terdapat banyak lele. Kalau dilihat sepintas mirip kegiatan lomba mancing, orang berjejer sepanjang jalan ya.. begitulah suasana pagi itu.
Beberapa orang yang mendapatkan hasil berlebih menjual ikan lele dengan harga 7500/kg. Banjir membawa berkah juga bagi mereka yang bisa memanfaatkan , kemungkinan besar hari itu sebagian besar orang makan lele. Entah hasil buruan atau pun hasil membeli, makum pasar terdedekat terendam banjir jadi amat sulit untuk mendapatkan bahan makanan, beberapa mini market ikut terendam banjir.
Satu-satunya tempat yang menjual bahan makanan adalah Superindo, dan pagi itu ketika aku dah adikku kesana suasananya lebih mirip pasar malam. Penuh sesak dan ups.. oran-orang blom pada mandi termasuk aku :D. Gimana mau mandi? listrik mati dan persediaan air minim, ya begitulah.. cuci muka dan beli persediaan makanan.
Acara memancing lele berlangsung sepanjang hari bahkan selama daerah ku banjir. Kayanya untuk mengurangi rasa bosan, karena gak ada listrik, gak ada hiburan lain :D. Ada kejadian lucu, beberapa anak-anak kecil berteriak ada lele lepas, kemudian beberapa orang sudah berlari mendekat ternyata bukan lele.. tetapi ular upsss.. ati-ati toh mas….
Di lain tempat temanku juga melihat hal yang sama, tapi bisa dikatakan yang ini lebih ‘aneh’ dikompleks perumahan ada beberapa orang menebar jala. Ya ampun.. ini bukan tambak kaleeee….
Banjir Jakarta 2007 : Perjalanan Pulang
Jumat, 2 Februari 2007
Setelah perjalanan berangkat yang melelahkan banjir dibeberapa tempat yang bisa dilalui sehingga perjalanan pagi itu harus memutar dan masuk ke jalan-jalan tikus, akhirnya sampailah dikantor pagi itu, dengan kondisi yang kuyup dan kedinginan. Hari itu Dona berencana menggunakan taksi untuk ke kantornya didaerah sunter karena sudah tidak ada waktu lagi untuk mengantar dia. Sesampainya di tempat parkir ada rekan kantor yang memberitahukan Lantai 11, tempat bisa absen. Alhasil kami berdua mampir dikantin untuk sekedar meminum teh hangat. Dikantin ternyata banyak teman2 yang tidak bisa masuk kantor karena masih dikunci.
Dikantin dona mendapat info kalau kantor diliburkan karena sunter banjir. Jadi hari itu dona menunggu seharian. Tentang hari ini aku sempat menuliskan blog singkat, baca Banjir.. singkat kata akhirnya kami berhasil pulang jam 15.00.
Perjalanan pulang sudah diwarnai dengan perasaan was was, melihat berita di detik.com dan berita di radio yang menyatakan banjir di Jakarta parah. 20 menit pertama perjalanan lancar, tidak ada halangan yang berarti aku pikir oke lah.. bisa sampai rumah dengan cepat. Tak lama kemudian kerumunan kendaraan bermotor mulai terlihat. Ada satpam dan polisi yang meneriakan banjir.. banjir.. masuk tol.. Akhir nya motor kami memasuki gerbang tol. Sempat aku melirik ke gerbang tol ternyata disaat darurat mobil masih membayar uang tol hehehe.. aku kira gratis… Diatas tol terlihat mobil yang terjebak banjir dan beberapa kru TV yang meliput berita. Wah bisa parah nich….
Setelah dapat kabar Daan Mogot tidak bisa dilewati karena banjir tinggi, aku berencana melalui jalan Kemanggisan - Jalan Panjang kemudian baru ke arah Puri. Setelah 1 halangan itu jalanan lancar sampai ke Slipi, bahkan aku sempat mengisi bensin di Shell Slipi. Memasuki daerah kampus Binus, jalanan kering kerontang dan tenang sekali seolah diluaran sana tidak terjadi apa2. Sesamapinya di Jalan Panjang, kemacetan mulai terasa. Diatas jembatan layang bisa terlihat samping Tol Kebon Jeruk menjadi lautan, air menggenang tinggi berapa truk besar terlihat terjebak di tengah2.
Perjalanan dilanjutkan kembali, Green Garden ditutup banjir, Jalan ke arah Pesangrahan ditutup banjir, kami berputar-putar dan selalu berakhir dengan jalan ditutup banjir. Akhirnya ada 1 jalan yang membuat kami kembali kejalan Daan Mogot. Disini kami harus beberapa kali berputar melawan arah gara2 banjir, 2-3 kali harus menerobos banjir. Akhirnya kami mengarah ke utara, setelah menyerbarang jalan Daan Mogot, daerah yang asing, baru kali ini masuk :D.
Arah yang dituju ke arah Barat, dan cari jalan yang besar. Kami menghindari jalan kecil dan gang sempit. Asumsinya sih semoga tembus ke daerah Kamal, karena menurut info adikku dia lewat kesana. Setelah beberapa lama berjalan akhirnya kami melihat angkutan umum warna merah, ploongg.. lega rasanya karena artinya angkutan itu cepat atau lambat bakal ke jalan besar, dan sepintas aku membaca rutenya tanggerang. Setelah melalui Jalan-jalan kecil akhirnya sampai juga di daerah Kamal. Lega rasanya bisa lihat Ramayana dan perempatan Cengkareng.
Perjalanan ternyata belum berakhir, di dekat pasar ternyata banjir cukup tinggi alhasil kami harus memutar melawan arah dan memasuki, lagi-lagi, daerah yang belum pernah dimasuki. Akhirnya sampai juga dijalan menuju rumah, sekitar jam 18.15 kami sampai dirumah, artinya 3 jam lebih perjalanan pulang. 50 meter dari rumah kami melihat “sungai kecil” terbentuk alamaakk.. sudah banjir… daerah sekitar sudah gelap, lampu mati sejak jam 4 sore. Yak.. petualangan baru dimulai.




