Category — My Live
Ganti Wajah
Malam ini under construction di site iwuvya berganti wajah. Biar gak bosen.. ![]()
Karena content utama blom siap juga jadi harap maklum hehehe…
Yang kurang cuma link ke blog ku dan blog dona. Eee…. kayanya sabtu baru bisa dibuat. Sekarang dah ngantuk. ![]()
Dinner at 46th Floor
Hari ini aku dan dona makan malam di daerah Sudirman tepat nya di Wisma BNI 46. Rencana untuk makan disini sudah ada sejak beberapa bulan yang lalu, aku cari tempat untuk celebrate our 2nd year engagement. Idenya cari tempat yang romantis dan dona belum pernah tau tempat itu :D.
Tempat itu bernama Cilantro, aku menemukan tempat itu secara tidak sengaja, lagi buka2 majalah dan melihat nama restro itu. Setelah melihat lokasinya aku langsung cocok dengan kriteria yang aku cari.
Sesampainya disana kami langsung menuju ke lantai 46, menggunakan lift yang tersedia. Dibandingkan dengan lift dikantorku yang ini sangat cepat, menurut info lift ini merupakan model super high speed, kecepatanya bisa mencapai 360 mpm, tinggi gedung Wisama BNI 46 sendiri sekitar 262 m (sumber wikipedia). Wow.. less than 1 minute. Effek ketinggian mulai berasa dilantai 30-an, telinga mulai berdengung tapi it’s ok tidak cukup menggangu.
Kami duduk didekat jendela, memandang Jakarta di waktu malam penuh lampu, indah.. sayangnya ketika aku coba memfoto hasilnya jelek, ada pantulan di kaca :D. Akhirnya kami hanya bisa menikmati tanpa bisa mengabadikannya hehehehe…
Makanan yang kami pesan tidak begitu special, itu kesimpulan dari kami berdua. Mungkin kami yang salah pilih, tapi itu recomendation dari Cilantro lho.. Makanan yang kami pesan, pembukanya adalah Sop Tom Yam Seafood, Main-nya Tahu Nenek Moyang dan Undang Goreng Gandum, Penutupnya punya nama agak keren kalo dalam bahasa Indonesia Es dengan Ketan Hitam :D. Walaupun makannya tidak begitu special, tetapi tempatnya memang romantis, dengan penerangan yang remang2 kami berdua menikmati makanan dan ngobrol2 santai seputar persiapan wedding. It’s a recommended place if you want to propose your girlfriend.
Tak berasa 1 jam lebih sudah berlalu, karena takut kemaleman akhirnya kami menyudahi acara malam itu. For us, It’s our first candle night dinner, finally after 5 year. I Love You..
Website Wedding
Sudah beberapa bulan ini prepare untuk bikin website wedding kami. Setelah menimbang-nimbang akhirnya diputuskan untuk membuat sendiri, gak minta orang untuk buatin. Stop keluarin uang! dah over budget :D.
Dimulai dari beberapa bulan lalu saat kita memilih nama untuk dijadikan domain name. “iwuvya” itu domain name kami. Kalo mau tau kenapa jadi “iwuvya” ntar aja dicritain di website wedding.. ditunggu yach.. Oke Back to topic..
Persiapan untuk membuat web ternyata susah.. terutama karena diantara kami gak ada yang berprofesi sebagai web designer. Jadi sesuai dengan tema kami “Simple and Elegant” kami berencana membuat website yang simple. Duh.. udah berapa lama belum ada kemajuan.. baru pilih warna.. keluarin ide-ide mau seperti apa.. tapi belum diwujudkan. Rencananya baru mau mulai bikin template sabtu ini.
Tadinya pengen bikin Flash website, ternyata susah juga :D. Dasar orang gaptek, dicoba-coba beberapa kali ternyata cukup rumit dah butuh usaha lebih. Akhirnya diputuskan Non Flash. Nah masalah yang lain timbul bahasa pemrograman yang familiar cuman “kroni”-nya Microsoft, mau bikin under ASP .NET hosting nya mahal, mau bikin pake PHP gak gitu tau juga.. Yakkk… harus belajar PHP nich..
Untuk database nya hosting tempat kami “numpang” menyedikan beberapa pilihan MySQL, PosgreSQL dan beberapa database lain. again.. harus belajar database baru. Ya.. yang ini gak penting-penting banget lah.. paling cukup tau insert, update, delete.. toh.. gak lagi bangun enterprise application. Paling banter yang disimpen cuma guestbook.. kalo mau kaya CMS pilih aja Joomla! dan sejenis-nya :p. back to concept “Simple and Elegant”
Jadi banyak juga yang harus dipelajari :D. Oke Let’s start..!!
Pas Foto
Pernah punya pengalaman bikin pas foto di Jakarta..
Kira kira begini ilustrasinya.. setelah melakukan “administrasi”, kita akan disuruh masuk ke sebuah ruangan untuk pengambilan gambar. Biasanya masih gelap (ya.. bisa dibilang remang-remang lah..), dan biasanya kita sempet merapikan pakaian diruangan tersebut. Tak lama kemudian kita akan disuruh duduk (usahakan duduk manis dan atur diri baik-baik, dan usahakan duduk tegak), tak lama kemudian sang fotografer akan “membidik” dihitungannya yang ketiga “Cepreet”, kemudian kegiatan monoton itu dilakukan sekali lagi pada hitungan ketiga “Cepreet”. Oke Done!
Gak ada instruksi “Coba pak kepalanya miring dikit kekanan” atau “bahu kirinya pak turun dikit” maaf ini jakarta bung.. gak ada waktu buat basa basi. dan hasilnya.. pas foto yang dihasilkan gak simetris. Yah ini jakarta serba mahal dan praktis.
Eeitsszz.. jangan bilang.. fotonya ditempat murahan sihh.. perlakuan yang hampir sama terjadi dihampir semua tempat.
Ya emang dasarnya gak fotogenic tapi tetep aja nyesel, foto di ID card miring lah.. ini lah.. itu lah.. dipandang gak enak lah.. dan sebagainya.
Beda banget pas foto di daerah. kami foto berdua, bersebelahan, untuk pas foto di akte nikah. Sebenernya sih gak kepikir mau foto, pas maen ke tempat my best friend yang papanya buka studio foto. ee.. kitanya sih cuma cerita2 kalo harus ada foto bersebelahan sebagai syarat eh tiba2 aja dia tanya dah foto belum? dan dengan cara-nya yang khas kita disuruh foto. Sore harinya kita berdua ketempat dia lagi, dengan modal baju putih baru (karena di rumah sudah tidak ada persediaan baju :D), percayalah proses foto cara diatas nggak pernah terjadi. Fotografer nya spesial (lha big boss-nya..), dan perfectionist (ini yang kami suka) butuh waktu cukup lama untuk membetulkan posisi dari kepala, tangan, bahu. Kami di foto 6 “jepret”-an masing-masing 3 kali untuk background berbeda, Merah dan Biru. Hehehe soalnya gak inget background nya harus apa. Dan setelah beberapa lama akhirnya selesailah proses foto yang melelahkan, terutama pas ganti background agar gak kelamaan atur posisi lagi kami berdua berusaha tidak bergerak.. ampun dech hehehehehe.., dan saat mau bayar si Om cuma bilang “gampang lah..” Nah! gak ada kan yang kaya gini di Jakarta.
Thanks Om, Thanks Osi..




